Translate

Tampilkan postingan dengan label Artikel tentang Cilacap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel tentang Cilacap. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2015

KRI TELUK PENYU (513)

  Tahukah anda, ternyata "Teluk Penyu" sudah lama diabadikan menjadi nama salah satu kapal perang Republik Indonesia ?    
          


             Kapal Republik Indonesia (KRI) Teluk Penyu  adalah kapal perang TNI AL bernomor lambung 513, yang merupakan jenis kapal pendarat atau LST (Landing Ship Tank) kelas Tacoma. Nama kapal ini berasal dari nama teluk yang berada di Kabupaten Cilacap yaitu "Teluk Penyu". Sebuah kebanggan tersendiri bagi warga Kabupaten Cilacap karena nama Teluk Penyu diabadikan menjadi nama salah satu kapal perang Republik Indonesia. KRI Teluk Penyu (513) ini dibangun oleh perusahaan Korea-Tacoma SY, MasanKorea Selatan pada tahun 1981

                   Kapal lain dalam kelas yang sama adalah KRI Teluk Semangka (512), KRI Teluk Mandar (514), KRI Teluk Sampit (515), KRI Teluk Banten (516), dan KRI Teluk Ende (517). KRI Teluk Penyu mempunyai 117 orang awak kapal termasuk perwira. KRI Teluk Penyu dilengkapi oleh pengangkut tentara dan mampu membawa 202 tentara infantri.

                     KRI Teluk Penyu mempunyai panjang 100 m X 15.4 X 4.2m (328 X 50.5 X 13.7 kaki) dan berbobot 3,770 ton. Dalam gelar operasinya, kapal buatan Korea Selatan ini mampu membawa muatan sebanyak 1,800 kargo atau seberat 690 ton, dan bisa memuat 17 tank setingkat MBT (main battle tank) untuk misi pendaratan. Sudah jadi langganan dalam gelar operasi amfibi, jenis LST ini membawa tank PT-76 dan panser amfibi BTR-50P Korps Marinir.KRI Teluk Penyu juga memiliki dek helikopter pada bagian belakang untuk operasi udara dan mempunyai dua mesin diesel yang disambungkan pada dua motor yang menghasilkan daya 5,600 HP dengan kecepatan tempur 15 knot. Persenjataan : 3 meriam 40 mm, 2 senjata mesin 20 mm & 2 senjata mesin 12,7 mm.

GALERI FOTO KRI TELUK PENYU (513)










                                                                          






Selasa, 07 Februari 2012

Masyarakat Desa Gentasari Kec. Kroya Kab. Cilacap Jateng Mempunyai Pesawat Nomad P-806




           06 April 2010, Juanda -- Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah, dengan batas wilayah sebelah selatan Samudra Indonesia, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar Propinsi Jawa Barat serta mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha, yang terbagi menjadi 24 Kecamatan 269 desa dan 15 Kelurahan.

            Diantara 24 Kecamatan dan 269 desa, ada satu kecamatan yang mempunyai Museum yaitu kecamatan Kroya yang tepatnya terletak di desa Gentasari, museum ini menyimpan berbagai koleksi milik Alm. Jendral (Purn) Susilo Sudarman, dari mulai menjadi Taruna Tahun 1948 sampai akhir hayatnya. Banyak koleksi yang menarik di museum ini, dari tank, pesawat, senjata dan lain sebagainya, nama dari museum ini adalah Museum Susilo Sudarman.

            Museum Susilo Sudarman ini diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada hari senin tanggal 03 September 2007. Pada awalnya Museum ini adalah Pendopo Ageng yang kemudian pada tahun 1983 Soesilo Soedarman pada waktu itu menulis surat pada keluarga besar Soedarman untuk menjadikan Pendopo Ageng menjadi Museum, pada tahun 1998 keinginan ini dapat direalisasikan menjadi museum Soesilo Soedarman.

            Museum yang terletak di desa Gentasari Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap Jawa tengah ini didirikan oleh keluarga besar Almarhum Soesilo Soedarman dan dibuka untuk umum. Almarhum Jenderal TNI (Purn) Soesilo Sudarman dilahirkan di Desa Nusajati, Maos Kabupaten Cilacap Jawa Tengah pada tanggal 10 Nopember 1928 dan wafat pada hari kamis 18 Desember 1997 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

            Jabatan terakhir yang beliau pegang sebagai menteri Negara Koordinator bidang Politik dan kemanan RI pada Kabinet pembangunan VI di era Orde Baru. Yang lebih menarik lagi disana terdapat pesawat TNI Angkatan Laut jenis Nomad N-22 Patroli Maritim Skuardron udara 800 dengan nomor lambung P-806 pernah dipakai oleh Almarhum Soesilo Soedarman yang ketika itu beliau menjabat sebagai Panglima Kowilhan-I dengan pangkat Letjen TNI untuk mendukung kegiatan patroli keamanan laut di wilayah perairan Sumatera, laut Natuna dan Kalimantan Barat.

            Sebagai Kenangan-kenangan sekaligus memperlengkap isi Museum yang luasnya ± 1.5 hektar pada tanggal 08 Nopember 2004 Kepala Staf Angkatan Laut pada waktu itu Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh menandatangani prasasti penyerahan Pesawat Nomad N-22 Patroli Maritim TNI Angkatan Laut dengan nomor lambung P-806.























Sabtu, 12 November 2011

HARTA KARUN DI TELUK CILACAP



23 Februari 1980
LAKI-LAKI itu, 48 tahun, bernama Djapar. Karena ia berasal dari Bugis, orang-orang di Cilacap kemudian memanggilnya Djapar Bugis. Bagaimana Djapar kemudian terdampar di Cilacap, cukup berliku-liku riwayatnya. Tahun 1950, Djapar -- tanpa menerangkan apa sebabnya -- telah membunuh seseorang di Makassar (kini Ujungpandang). Karena perbuatannya itu, Djapar harus menjalani masa hukumannya 19 tahun 6 bulan. Cukup banyak rumah penjara yang pernah diinapinya Tanggerang, Glodok, Cipinang (semuanya di Jakarta), kemudian pindah ke penjara Semarang, Ambarawa, Kutoarjo, Magelang, Cilacap dan terakhir di Nusakambangan. Tahun 1969, utang Djapar kepada penjara lunas. Setahun kemudian, ia berhasil bekerja di proyek tambang pasir besi Cilacap sebagai mandor. Proyek selesai, Djapar menjadi nelayan. Sementara itu ia telah menikah dengan Sutinah, kini 27 tahun, dan punya 4 orang anak.

Seperti biasanya, Djapar pergi mencari udang karang di perairan Karangbolong, Nusakambangan. Anaknya yang berusia 7 tahun, Surito selalu menyertai sang ayah. Seperti kebanyakan orang-orang laut di sekitar Sulawesi atau Banda, Djapar adalah juga penyelam alam. Akhir Juli, 1979, ketika ia menyelam di kedalaman 10 - 12 meter ia melihat bongkahan karang yang bentuknya agak aneh. Benda itu cukup berat kalau dibandingkan dengan bongkahan karang biasa. Dari pada pulang dengan tangan kosong, bongkahan itu dibawanya pulang. Beberapa hari, bongkahan itu menghiasi sudut luar rumah pondoknya. Tergeletak begitu saja, tak ada yang menggubris. Syahdan, suatu hari ketika Djapar menganggur, dia teringat akan bongkahan itu. Dibersihkannya. Ketika itu lapisannya terkelupas -- dan ia temukan sebatang logam yang berukuran lebar 10 cm, panjang 40 cm, tebal 10 cm. Lebih menarik lagi, pada salah satu muka batang logam itu ada tulisan G.V.A. Djapar mengira logam itu besi tua biasa. Karena sudah seminggu Djapar tidak mendapat ikan atau udang, dan dapurnya pun nyaris tak berasap lagi, ia keliling kampung menawarkan batangan logam tersebut. Seorang tukang loak -- setelah tawar menawar -- mau membelinya seharga Rp 500. "Lumayan, daripada anak saya nggak makan," ujarnya. Sepuluh hari berikutnya, dia berhasil mendapatkan 8 batang logam yang sama. Dan itu berarti Rp 4.000. Lumayan. Dan nelayan lain pun tertarik. Sekitar Agustus lalu, Djapar tidak lagi memonopoli pencarian batangan logam tersebut. Jadwal Komando Harga logam tersebut juga melonjak luar biasa -- sampai Rp 80.000. Bersamaan dengan naiknya harga emas, September batangan logam bermerek G.V.A jadi Rp 180.000. Terus saja menjulang sampai Rp 225.000, dan harga bulan Februari ini bahkan bisa mencapai Rp 265.000. Masalahnya, permintaan lebih besar ketimbang jumlah logam yang ditemukan. Sejak September, ada sekitar 67 penyelam (penyelam sungguhan atau nelayan yang jadi penyelam) mengaduk-aduk pantai Karangbolong. Tidak kurang dari 50 perahu compreng berkeliaran sekitar 25 meter dari pantai Karangbolong. Jarak dari pelabuhan Cilacap sampai ke tempat "harta karun" itu bersembunyi tak jauh memang. Malah hanya 15 menit saja jika ditempuh dengan perahu motor tempel. Biasanya mereka berangkat jam 03.00 pagi. Tidak semua nelayan mencari secara bersamaan. Beberapa di antara mereka harus berkonsultasi dulu dengan "orang tua" alias dukun. Tiap grup punya konsultan macam ini. Dan dukun inilah yang memberi "jadwal komando" tentang hari dan jam baik untuk berangkat. Peralatan yang mereka pakai cukup sederhana. Sebuah mesin kompresor, masker penyelam, argulator untuk mengatur pernapasan lewat mulut, rantai besi seberat 15 - 25 kg. Yang terakhir ini untuk mempercepat si penyelam sampai ke dasar laut. Juga dibawa slang pernapasan, martil atau linggis. Harga peralatan selam ini berkisar Rp 430 000. Penyelam yang tidak mampu, cukup mengenakan kostum berupa kaus olahraga. Beberapa penyelam alam bahkan tidak memerlukan argulator, asal ia tahu kapan ia seharusnya muncul ke permukaan laut. Tiap kelompok biasanya berjumlah 5 atau 6 orang: dua orang penyelam bekerja bergantian, seorang lain bertugas sebagai penjaga kompresor dan yang lain mengatur perahu, atau menerima isyarat bila penyelam minta tali pengikat logam ditarik. Tapi rezeki toh tidak bisa dipaksa. Jika beruntung, dalam waktu setengah jam sudah memperoleh logam yang dicari. Yang sial nol sampai pulang. Biasanya, kalau seorang penyelam menemukan batangan logam, penyelam lain menyerbu lokasi itu. Panik, gembira dan suasana yang tidak karuan terpusat di lokasi itu. Slang-slang udarapun jadi saling berbelit. Bulan lalu, dua orang tewas. "Karena itu kami kemudian melakukan tindakan larangan," ujar Adpel Cilacap, R. Soeroso Prawirosiswojo.

Lewat Syahbandar telah dikeluarkan larangan menyelam sejak 23 Januari, 1980. "Nelayan kok mau coba-coba jadi penyelam," tambah Soeroso. Masjid Larangan resmi ini ditujukan bagi semua pencari batangan besi tersebut. Soalnya, ada tim penyelam bukan dari Cilacap juga turut campur tangan. Misalnya kelompok yang menamakan diri "ekspedisi Puhara". Puhara adalah singkatan dari "Pemanfaatan Umum & Harta Pusaka Rakyat Indonesia", yang konon mendapat rekomendasi dari Bappeda Jawa Tengah. Setelah mengirim tim peneliti, Puhara mencoba mengumpulkan para penyelam dan nelayan, untuk menentukan bagi hasil. Puhara sendiri mendapat bagian 35%. Niat ini tentu saja ditentang oleh nelayan dan penyelam. Dan ketika Adpel menanyakan surat izin resmi dari Dirjen Perhubungan Laut, orang Puhara ternyata tak punya. Juga ketika alamatnya dicari di Jakarta, ternyata palsu. Tim ekspedisi ini sempat menggunakan nama Sekretariat Negara sebagai backingnya -- tapi sekarang sudah terpaksa angkat kaki dari teluk Cilacap. Minggu lalu, masih ada beberapa penyelam tradisional yang berkeliaran di pantai Karangbolong. "Mereka belum mengcrti pengumuman kami. Juga kami tak bisa menghentikan kegiatan mereka secara tiba-tiba," ujar Soeroso. Selain batangan logam itu, ada keping mata uang VOC bertahun 1790. Sebagian besar pembeli pertama batangan logam itu adalah orang-orang 'nonpri". Logam ini kemudian mereka jual kepada agen-agen yang kabarnya melego lagi ke Jakarta, Yogya atau Surabaya. Konon oleh pabrik pelebur logam, batangan logam dari Karangbolong ini disebut "babet", bahan pelapis metal mesin kendaraan. Ah Hok, salah seorang pembeli, mengaku bahwa dari setiap batang ia bisa menarik keuntungan sekitar Rp 10.000 - Rp 15.000. Djapar Bugis sendiri cukup bersyukur akan rahmat Tuhan. Sejak Juli tahun lalu hingga pertengahan Februari 1980 ia berhasil mendapat 110 batang logam. "Saya tidak mengerti logam apa ini dan mengapa harganya jadi naik cepat," ujarnya. Pembeli selalu memburunya. Bahkan sering, belum sampai di rumah, ia sudah dihadang pembeli menyodorkan tumpukan uang di bawah hidungnya. Kini Djapar Bugis sudah memiliki 3 buah perahu bermotor tempel. Juga dua set alat penyelam yang harganya sekitar satu juta rupiah. Rumahnya yang gubuk kini telah didandaninya dengan ongkos Rp 4 juta. Semua itu ia dapat dari penjualan batang-batang logam tadi. Bukan hanya itu. Rezekinya itu ia sisihkan untuk memberi sumbangan sebesar Rp 360 ribu pada beberapa masjid di Cilacap, Bandung, Pangandaran, Kebumen dan Gombong. Katanya sambil tertawa "Ya, hitung-hitung buat tabungan di akhirat nanti."

Sumber : Tempo Online (23 Februari 1980)

Rabu, 13 Oktober 2010

KOTA KAYA DI UJUNG SELATAN JAWA

         
Pendopo Kabupaten Cilacap

             Cilacap merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang wilayahnya terletak di bagian selatan Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Kabupaten Cilacap mempunyai luas wilayah 225.360,840 ha atau sekitar 6,94% dari luas wilayah Provinsi Jawa Tengah. Di sebelah timur berbatasan dengan Kapupaten Kebumen dan Kabupaten Banyumas, di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Brebes, serta di bagian barat laut berbatasan dengan Kabupaten Kuningan ( Provinsi Jawa Barat ).

            Kabupaten Cilacap sebenarnya merupakan kabupaten yang kaya, dilihat saja dari letak geografisnya di bagian selatan adalah Samudra Hindia yang secara otomatis Cilacap kaya akan sumber daya lautnya. Letaknya yang strategis  dekat dengan laut membuat Cilacap menjadi tempat persinggahan kapal-kapal besar dan memungkinkan daerah ini dikembangkan sebagai kawasan industri. Pada saat ini di Kabupaten Cilacap mempunyai wilayah khusus untuk pengembangan industri, yaitu Kawasan Industri Cilacap ( KIC ). Dengan adanya industri-industri tersebut maka diharapkan akan menambah pendapatan  daerah sehingga pembangunan di Kabupaten Cilacap akan maju seperti kota-kota industri lain di Indonesia. Tanah yang subur juga membuat Cilacap menjadi kota yang kaya hasil pertanian dan perkebunan yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat menjadi lebih baik.

            Tidak hanya kaya akan kekayaan alamnya saja,tetapi Cilacap juga kaya akan budayanya seperti gaya bahasa dan kesenian yang berbeda dengan daerah lain. Saat ini hanya tinggal beberapa budaya Cilacap yang masih bertahan seperti : Sedekah Bumi (Cilacap Utara dan Tengah), Kuda Kepang (Kawunganten), Reog (Maos dan Sampang), Sholawatan (Cimanggu), Kotekan Lesung (Kesugihan), Calung (Binangun), Calung Sunda (Dayeuhluhur), Baritan (Nusawungu), Rebab Sholawatan Ngelik (Cipari), Nyadran (Adipala), Buncis (Kroya), Marawis (Karangpucung), Muyen (Bantarsari), Kudalumping Begalan (Kedungreja), Tayub Jaipong (Wanareja), Rampak Kendang (Patimuan), Jaran Kepang (Jeruklegi) dan Sedekah Laut (Cilacap Selatan).
Sebagai daerah yang berada pada perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, Cilacap memiliki keanekaragaman budaya. Baik budaya yang bercorak Sunda, Jawa maupun campuran antara Sunda Jawa. Masyarakat Cilacap lebih dikenal sebagai bagian dari masyarat dan budaya Banyumas. Namun demikian, sebagian budaya tersebut kini mulai tergusur oleh derasnya arus modernisasi. Orang Cilacap yang termasuk sebagai bagian dari masyarakat Banyumas-an terkenal dengan gaya bicara “ blak-blakan ” (blaka suta). Ini terlihat juga dari gambaran tokoh pewayangan yang menjadi idola, yaitu “ Carub/ Bawor “ yang berwatak blaka suta, berani dan suka humor. Dalam menghadapi suatu permasalahan, mereka cenderung bicara atau terus terang mengemukakan pendapatnya dengan segala resikonya.
 
Dalam kehidupan masyarakat Cilacap dan masyarakat Banyumas-an pada umumnya, ada sebuah pameo yang menjadi dasar filosofi kemasyarakatan, yaitu “ gemblung-gemblung kari rubung “ yang artinya gila-gila asal kumpul. Pameo ini secara lebih jauh dapat diartikan bahwa kebersamaan itu adalah hal yang paling utama dalam hidup bermasyarakat. Saling tolong menolong dan toleransi menjadi semacam pedoman hidup. Pada intinya mereka yang lebih mampu dengan suka rela membagi pada yang belum mampu.

Sumber : 
Rucianawati ( Konflik Horizontal Pertanahan Di Kawasan Industri Cilacap )