Translate

Selasa, 07 Februari 2012

CERITA TENTANG KADIPATEN DONAN



Ilustrasi pertarungan Bagus Santri/ Santri Undig dengan Garuda Beri


Jika cerita tentang Kerajaan Nusatembini berasal dari masa Hindu Budha, maka cerita tentang Kadipaten Donan diperkirakan pada periode awal perkembangan Islam di Tanah Jawa. Donan tidak berlokasi di dekat  pantai selatan Cilacap, tetapi di daratan bagian utara, sekarang masuk sekitar Kota Cilacap.

Dalam cerita itu dikatakan bahwa Donan pada mulanya merupakan daerah hutan. Daerah itu mulai dibuka menjadi daerah pemukiman migrasi orang-orang Banyumas. Salah satu kelompok pendatang adalah rombongan Raden Ronggosengoro utusan dari Adipati Mrapat, seorang menantu dari Adipati Wirasaba. Raden Songgosengoro beserta rombongannya akhirnya menetap di wilayah itu. Ia pandai memimpin rakyat dengan mengubah daerah Donan yang semula sepi menjadi pemukiman yang ramai. Ronggosengoro kemudian diangkat menjadi Adipati di Donan oleh Adipati Wirasaba.

Di bawah kepemimpinan Adipati Ronggosengoro daerah Donan secara berangsur-angsur berubah menjadi daerah yang ramai dan makmur. Penduduknya hidup dalam kecukupan, tidak kekurangan sandang maupun pangan. Keamanan terjamin sehingga penduduk tidak merasa cemas tinggal di wilayah Donan.

Kondisi Donan yang aman dan tenteram menjadi terusik ketika ada gangguan makhluk aneh ke wilayah Donan. Gangguan itu berupa seekor burung raksasa yang oleh orang setempat disebutnya sebagai ”Garuda Beri”. Burung raksasa ini konon sering menerkam hewan-hewan milik penduduk Donan. Bahkan juga menerkam manusia yang berusaha mempertahankan binatang kesayangannya yang hendak diterkam oleh si burung raksasa tersebut. Burung raksasa itu bersarang di Pulau Nusakambangan. Untuk mengatasi persoalan itu sang adipati berusaha mengerahkan segala kekuatan rakyatnya untuk membunuh binatang tersebut, tetapi selalu gagal.

Kegagalan menangkap binatang yang meresahkan masyarakat Donan tersebut mengusik sang adipati untuk mencari cara lain. Berkat petunjuk dari ahli nujumnya yang mengatakan bahwa burung tersebut dapat dimusnahkan dengan pusaka Kesultanan Demak, maka ia menghadap ke Kesultanan Demak untuk meminjam pusaka Demak yang bernama Kyai Tilam Upih. Permintaan sang adipati meminjam pusaka Demak tersebut ternyata dikabulkan oleh Sultan Demak. Sayang sekali setelah pusaka itu berhasil dipinjam, namun tidak seorang pun yang mampu menggunakannya dengan baik  untuk membunuh Garuda Beri.

Oleh karena selalu gagal dalam memusnahkan binatang berbahaya itu, diceritakan bahwa Adipati Donan menggelar sayembara. Dalam sayembara tersebut sang Adipati menjanjikan hadiah putrinya bagi siapapun yang berhasil menangkap dan membunuh Garuda Beri tersebut.

Sayembara itu ternyata menarik perhatian para Adipati Anom di daerah lain. Mereka berdatangan untuk menunjukkan kesaktiannya dalam menangkap binatang berbahaya tersebut. Mereka berharap sekali dapat menangkap binantang itu karena hadiahnya yang cukup menggiurkan, seorang putri yang cantik jelita. Akan tetapi ternyata para adipati tersebut tak satupun yang berhasil menaklukan garuda Beri. Para petarung menjadi takut dan lari terbirit-birit akibat serangan ganas dari binatang siluman tersebut. Sebagian dari mereka mengalami cedera, dan sebagian lagi mengurungkan niatnya mengikuti sayembara.

Dengan kegagalan para Adipati Anom dalam mengikuti sayembara menangkap Garuda Beri, maka sang Adipati Donan menjadi putus harapan. Sang Adipati  selalu merenung untuk mencari cara bagaimana mengalahkan binatang yang meresahkan  rakyat Donan tersebut. Dalam suasana kesedihan tersebut datanglah seorang pemuda dengan wajah yang tampan dan halus perangainya. Pemuda itu adalah seorang perjaka ”Santri Undig” yang disebut pula sebagai Bagus Santri. Di hadapan Sang Adipati Donan, ia menyampaikan niatnya untuk mengabdikan diri di Kadipaten Donan, ia akan bekerja apa saja demi Donan dan akan melaksanakan titah baginda dengan penuh kepatuhan. Sang Adipati yang mendengar permohonan Bagus Snatri tersebut menyatakan tidak keberatan, bahkan menerimanya dengan senang hati dengan syarat ia sanggup membunuh binatang Garuda Beri yang telah meresahkan rakyatnya. Meskipun Bagus Santri mengetahui bahwa syaratnya cukup berat, namun tekadnya yang bulat membuat menerima tawaran Sang Adipati Donan tersebut.

Sesungguhnya Bagus Santri adalah seorang utusan dari Demak. Ia diutus Sultan demak untuk mengambil kembali pusaka Demak yang cukup ampuh, ”Cis Tilam upih” yang sudah lama tidak ada di istana. Dengan diterima menjadi hamba Adipati Donan dan berhasil menangkap Garuda Beri, maka ia berharap pusaka Demak tersebut dapat diambil kembali.

Santri Undig tidak serta merta menangkap Garuda Beri. Untuk sementara waktu ia harus tinggal di Kadipaten Donan untuk mempelajari situasi dan kondisi bahaya tersebut. Setelah beberapa waktu tinggal di Donan, ia menghadap sang Adipati untuk menyampaikan uneg-unegnya. Pertama, sebelum membunuh Garuda Beri, ia terlebih dahulu meminta dibuatkan ”lubang yang dalamnya setinggi manusia”. Kedua, ia  meminta agar disediakan kain kain putih selebar hasta. Ketiga, ia diperkenankan meminjam pusaka Cis Tilam Upih. Kecuali permintaan ketiga, permintaan Bagus Snatri segera dikabulkan oleh sang adipati. Sementara itu permintaan ketiga baru bisa dikabulkan setelah ia berkali-kali meyakinkan sang adipati bahawa burung tersebut baru dapat dibunuh dengan Cis Tilam Upih.

Dengan dikabulkannya semua permintaan, Bagus Santri kemudian mempersiapkan untuk menangkap Garuda Beri. Setelah perlengkapan yang diperlukan tersedia, Bagus Santri mengambil air wudhu dan sholat sembari berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT  dalam melaksanakan tugas berat tersebut. Dengan diniati memberantas kejahatan dan kekejaman, maka Bagus Santri memiliki motivasi yang kuat untuk membunuh Garuda Beri. Setelah bersembahyang dan membaca doa selamat, santri Undig mengenakan kain putih pemberian Adipati Donan. Kain putih itu digunakan untuk membungkus dirinya hingga tidak kelihatan badannya dan membentuk gumpalan putih. Dengan mengenakanpakaian itu, maka tidak tampak manusian jika dipandang dari jarak jauh. Dari  kejauhan lebih mirip sapi dengan kulit putih. Berpakain seperti itu merupakan taktik Bagus Santri agar Garuda Beri yang melihat dari angkasa mengira benda putih yang terlihat adalah sapi dengan begitu garuda Beri akan segera menerkamnya. Dalam posisi seperti itu ia menuju ke tempat terbuka tempat dibangunnya sebuah pondok bertiang tinggi. Tidak jauh dari lokasi itu juga terdapat sebuah lubang setinggi manusia yang digunakan sebagai tempat untuk melawan Garuda Beri.

Peristiwa akan adanya pertarungan antara Bagus Santri dengan burung raksasa mengundang khalayak untuk melihatnya. Mereka melihat akan adanya pertarungan antara Garuda Beri dengan Bagus Santri. Para warga Donan dengan penuh ketegangan menantikan detik-detik terjadinya pertarungan tersebut.

Menunggu kedatangan makhluk aneh, Bagus Santri bersila di panggok sambil bersemedi seraya memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat berhasil menjalankan misi sucinya, menumpas Garuda Beri. Tidak lama kemudian, dari arah selatan (P. Nusakambangan) terlihat bayangan hitam yang terlihat di angkasa. Bayangan itu makin mendekati posisi Bagus Santri. Penduduk yang melihatnya menjadi ketakutan dan bertanya-tanya dalam hati apa yang akan terjadi. Garuda Beri kemungkinan menganggap bahwa gumpalan warna putih itu adalah seekor sapi atau kambing besar yang bisa dimangsa. Garuda Beri beberapa kali mengitari dan mengamati benda putih itu, hingga rupanya ia berkeyakinan bahwa yang dihadapi adalah magsa yang lezat. Dengan sigap Garuda Beri itu kemudian menyambar mangsanya., Bagus Santri yang berbalut kain putih. Sementara itu Bagus Santri sudah siap untuk memberikan perlawanan. Ketika Garuda Beri menukik ke bawah, Bagus Snatri masuk ke dalam lubang tanah yang telah dipersiapkan itu. Ketika cakar Garuda Beri berdiri di atas lubang, Bagus Santri dengan sigap menancapkan pusaka Cis Tilam Upih pada bagian paha dari burung raksasa itu. Burung itu meraung kesakitan dan terbang kembali ke angkasa. 

Garuda Beri yang telah mengalami luka di bagian pahanya itu sudah tidak memiliki keseimbangan dalam mengayunkan tubuhnya di angkasa. Binatang itu kemudian hinggap di pohon ketapang yang amat besar di tepian sebuah pantai Cilacap. Pohon raksasa itu tidak mampu menahan beban berat dari tubuh burung raksasa itu hingga rantingnya bengkok hampir menyentuh tanah. Garuda beri hendak terbang kembali, dan kerena tubuhnya telah terluka parah maka ia hanya dapat melayang-layang pada ketinggian yang rendah. Goresan luka akibat tusukan pusaka Demak iyu menyebabkan daya tahan tubuh Garuda Beri menurun tajam dan akhirnya jatuh ke tepian anak sungai yang tidak jauh dari Sungai Donan bagian timur.

Orang percaya bahwa cerita tentang matinya Burung Garuda Beri ini dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa suatu tempat di Cilacap yang dikenal dengan nama ”Grumbul Ketapang Dengklok”. Artinya pemukiman tempat pohon ketapang yang begkok akibat tidak ammpu menahan beratnya Burung Garuda Beri yang sedang sakit menjelang ajalnya.

Keberhasilan Bagus Snatri membunuh Garuda Beri dismabut sukacita di seluruh Kadipaten Donan. Sukacita terlihat sekali diraut wajah sang Adipati yang kemudian menekati Bagus Santri dan memluknya erat-erat. Sementara itu rakyat bersorak-sorai mengelu-elukan kepahlawanan Bagus Santri. Kegembiraan rakyat Donan bisa dipahami karena dengan terbunuhnya garuda Beri, maka rasa mencekam yang mereka rasakan tiap hari telah hilang. Sementara itu Sang Adipati juga merasa telah berhasil menyelamatkan penduduknya dari marabahaya.

Adipati Donan tidak ingkat janji, ia segera menyerahkan putrinya nan cantik jelita kepada Bagus Santri, akan tetapi Bagus Santri tidak segera menerima hadiah putri tersebut. Bagus Santri justru menyerahkan putri tersebut untuk menjadi istri Adipati Bagong, seorang Adipati di Limbangan. Alasan Bagus Santri tidak menerima sang putri karena Bagus Snatri belum berkeinginan menikah dan masih senang berkelana menyebarkan agama Islam.

Bagus Santri yang cukup cerdik tersebut ternyata adalah Sunan Kalijaga. Ia mendapat tugas dari Sultan Demak untuk mencari dan mengambil kembali pusaka Demak Cis Tilam Upih. dengan demikian, cerita tentang peristiwa di Kadipaten Donan tersebut adalah dapat dianggap sebagai masa awal penyebaran Islam di telatah Cilacap.

Sumber :  
  • Buku Pengkajian dan Penulisan Upacara Tradisional di Kabupaten Cilacap, oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006
  • http://cilacapkab.go.id

Masyarakat Desa Gentasari Kec. Kroya Kab. Cilacap Jateng Mempunyai Pesawat Nomad P-806




           06 April 2010, Juanda -- Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah, dengan batas wilayah sebelah selatan Samudra Indonesia, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar Propinsi Jawa Barat serta mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha, yang terbagi menjadi 24 Kecamatan 269 desa dan 15 Kelurahan.

            Diantara 24 Kecamatan dan 269 desa, ada satu kecamatan yang mempunyai Museum yaitu kecamatan Kroya yang tepatnya terletak di desa Gentasari, museum ini menyimpan berbagai koleksi milik Alm. Jendral (Purn) Susilo Sudarman, dari mulai menjadi Taruna Tahun 1948 sampai akhir hayatnya. Banyak koleksi yang menarik di museum ini, dari tank, pesawat, senjata dan lain sebagainya, nama dari museum ini adalah Museum Susilo Sudarman.

            Museum Susilo Sudarman ini diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada hari senin tanggal 03 September 2007. Pada awalnya Museum ini adalah Pendopo Ageng yang kemudian pada tahun 1983 Soesilo Soedarman pada waktu itu menulis surat pada keluarga besar Soedarman untuk menjadikan Pendopo Ageng menjadi Museum, pada tahun 1998 keinginan ini dapat direalisasikan menjadi museum Soesilo Soedarman.

            Museum yang terletak di desa Gentasari Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap Jawa tengah ini didirikan oleh keluarga besar Almarhum Soesilo Soedarman dan dibuka untuk umum. Almarhum Jenderal TNI (Purn) Soesilo Sudarman dilahirkan di Desa Nusajati, Maos Kabupaten Cilacap Jawa Tengah pada tanggal 10 Nopember 1928 dan wafat pada hari kamis 18 Desember 1997 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

            Jabatan terakhir yang beliau pegang sebagai menteri Negara Koordinator bidang Politik dan kemanan RI pada Kabinet pembangunan VI di era Orde Baru. Yang lebih menarik lagi disana terdapat pesawat TNI Angkatan Laut jenis Nomad N-22 Patroli Maritim Skuardron udara 800 dengan nomor lambung P-806 pernah dipakai oleh Almarhum Soesilo Soedarman yang ketika itu beliau menjabat sebagai Panglima Kowilhan-I dengan pangkat Letjen TNI untuk mendukung kegiatan patroli keamanan laut di wilayah perairan Sumatera, laut Natuna dan Kalimantan Barat.

            Sebagai Kenangan-kenangan sekaligus memperlengkap isi Museum yang luasnya ± 1.5 hektar pada tanggal 08 Nopember 2004 Kepala Staf Angkatan Laut pada waktu itu Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh menandatangani prasasti penyerahan Pesawat Nomad N-22 Patroli Maritim TNI Angkatan Laut dengan nomor lambung P-806.























Senin, 06 Februari 2012

KALI YASA



 Sungai Kali Yasa tempo dulu 

            Sungai yang dikenal warga kota Cilcap dengan nama Kali Yasa merupakan sarana vital bagi nelayan perikanan tangkap, khususnya nelayan tradisional yang ber-domisili di Tegalkatilayu, Sidakaya dan Sentolokawat. Mungkin masih belum banyak orang mengetahui bagaimana asal usul dari Kali Yasa tersebut.


Sungai Kali Yasa ( Tegalkatilayu)
                                                                                                 

            Berikut ini adalah kutipan dari buku “Cilacap (1830 - 1942) Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa” penulis Susanto Zuhdi, dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, cetakan Pertama, 2002, Jakarta. Gagasan awal pembangunan kanal Kali Yoso (sekarang Kali Yasa) adalah untuk melancarkan arus lalulintas kegiatan ekspor-impor dari pedalaman Banyumas ke daerah lain di Jawa dan Eropa melalui Pelabuhan Cilacap, yang sebelumnya melalui muara Sungai Serayu. Dengan harapan apabila pembangunan kanal tersebut berhasil, maka perdagangan laut akan lancar.Upaya pembangunan menggali kanal telah berlangsung sejak tahun 1832 - 1836. Akan tetapi hampir semua pekerjaan sebelum tahun 1900 seperti pembuatan irigasi atau penggalian kanal tersebut gagal. Tidak ada ahli eropa yang ter-libat dalam pekerjaan itu. Misalnya, penggalian Kanal Kesugihan dua kali dilaksanakan tetapi gagal mengalirkan air. Sejarah pembuatan kanal yang menghubungkan sungai serayu dengan Pelabuhan Cilacap merupakan salah satu dari banyak contoh salah urus pekerjaan gagal. Kegagalan tersebut antara lain disebabkan oleh masalah tenaga kerja (heerendiensten), yang harus didatangkan dari tempat jauh. Selain itu jumlah curah hujan tiap hari di daerah Cilacap dalam setahunnya adalah paling tinggi, baik diantara kota-kota pantai utara maupun selatan Jawa, 192 cm. Biaya pembuatan kanal yang disediakan dalam anggaran oleh Kas Residensi Banyumas sebesar f14.000,-. Ketika Seriere memamngku jabatan residen di banyumas, pekerjaan penggalian kanal berjalan selama dua tahun. Setiap hari dikerahkan tenaga kerja 1.800 orang dibawah oerintah dua bupati. Setiap 14 hari mereka bergantian menyediakannya. Biaya pembangunan kanal melalui rawa-rawa ini, termasuk pengeringannya sebear 90.000 gulden. Yoso dalam bahasa Jawa artinya sama dengan gawe yang berarti juga digawe (dibuat), jadi Kali Yoso adalah Sungai yang dibuat. Kanal Kali Yoso selesai dibangun pada tahun 1836. Sebagai perasaan gembira menyambut selesainya pekerjaan kanal tersebut Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens (1836 - 1840) mendampingi Pangeran Hendrik yang dating dari negeri Belanda untuk mengunjungi Jawa, tahun 1837, menyempatkan diri me-lakukan perjalanan air dari Banyumas ke Cilacap, yang ditempuh dalam waktu sembilan hari.

            Dengan selesainya kanal Kali Yoso tersebut produk dari pedalaman Banyumas lebih cepat dikirim ke Cilacap, tanpa melalui pantai selatan Jawa. Pekerjaan pembuatan kanal Kali Yoso belum menggunakan teknologi modern, sehingga hasilnyapun tidak sesuai harapan. Pada waktu-waktu tertentu, permukaan air kanal turun sehingga menjadi dangkal. Pemanfaatan Kali Yoso sebagai sarana lalu lintas untuk mengekspor kopi dari Banyumas, berakhir pada sekitar 1896. Karena pada 5 Maret 1884 atas usul pengusaha swasta telah diputuskan membuka jalur Trem Uap Lembah Serayu (SDS = Serayudal Stoomtrammaatschappij). Dan pada 16 juli 1896, SDS membuka jalur pertama yang menghubungkan Maos dengan Purwokerto (29 km). Maos merupakan titik temu rel kereta api Yogya-Cilacap. Lintas kereta api Yogya-Cilacap (Staatsspoorwegen = SS) dibangun pada tahun 1879 dan selesai tahun 1887. Sedangkan penyambungan rel dari stasiun Cilacap ke pelabuhan ditetapkan oleh Departemen Pekerjaan Umum pada tahun 1888.


             Sejak dibukanya jalur keretaapi itulah, Kali Yoso praktis tidak lagi digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan. Dalam perkembangannya pada abad 20, hilir Kali Yasa yakni Sentolokawat menjadi pusat kegiatan nelayan tradisional, kemudian dengan datangnya kapal-kapal dari Bagan Siapi-api yang memadati muara tersebut, serta dibangunnya tangki pengilangan minyak oleh Pertamina, maka timbulah gagasan membangun Pelabuhan Perikanan (saat ini PPSC) dan sungai Kali Yasa semakin berperan sebagai basis nelayan tradisonal.

*        Sumber: Dari berbagai sumber



Sabtu, 12 November 2011

HARTA KARUN DI TELUK CILACAP



23 Februari 1980
LAKI-LAKI itu, 48 tahun, bernama Djapar. Karena ia berasal dari Bugis, orang-orang di Cilacap kemudian memanggilnya Djapar Bugis. Bagaimana Djapar kemudian terdampar di Cilacap, cukup berliku-liku riwayatnya. Tahun 1950, Djapar -- tanpa menerangkan apa sebabnya -- telah membunuh seseorang di Makassar (kini Ujungpandang). Karena perbuatannya itu, Djapar harus menjalani masa hukumannya 19 tahun 6 bulan. Cukup banyak rumah penjara yang pernah diinapinya Tanggerang, Glodok, Cipinang (semuanya di Jakarta), kemudian pindah ke penjara Semarang, Ambarawa, Kutoarjo, Magelang, Cilacap dan terakhir di Nusakambangan. Tahun 1969, utang Djapar kepada penjara lunas. Setahun kemudian, ia berhasil bekerja di proyek tambang pasir besi Cilacap sebagai mandor. Proyek selesai, Djapar menjadi nelayan. Sementara itu ia telah menikah dengan Sutinah, kini 27 tahun, dan punya 4 orang anak.

Seperti biasanya, Djapar pergi mencari udang karang di perairan Karangbolong, Nusakambangan. Anaknya yang berusia 7 tahun, Surito selalu menyertai sang ayah. Seperti kebanyakan orang-orang laut di sekitar Sulawesi atau Banda, Djapar adalah juga penyelam alam. Akhir Juli, 1979, ketika ia menyelam di kedalaman 10 - 12 meter ia melihat bongkahan karang yang bentuknya agak aneh. Benda itu cukup berat kalau dibandingkan dengan bongkahan karang biasa. Dari pada pulang dengan tangan kosong, bongkahan itu dibawanya pulang. Beberapa hari, bongkahan itu menghiasi sudut luar rumah pondoknya. Tergeletak begitu saja, tak ada yang menggubris. Syahdan, suatu hari ketika Djapar menganggur, dia teringat akan bongkahan itu. Dibersihkannya. Ketika itu lapisannya terkelupas -- dan ia temukan sebatang logam yang berukuran lebar 10 cm, panjang 40 cm, tebal 10 cm. Lebih menarik lagi, pada salah satu muka batang logam itu ada tulisan G.V.A. Djapar mengira logam itu besi tua biasa. Karena sudah seminggu Djapar tidak mendapat ikan atau udang, dan dapurnya pun nyaris tak berasap lagi, ia keliling kampung menawarkan batangan logam tersebut. Seorang tukang loak -- setelah tawar menawar -- mau membelinya seharga Rp 500. "Lumayan, daripada anak saya nggak makan," ujarnya. Sepuluh hari berikutnya, dia berhasil mendapatkan 8 batang logam yang sama. Dan itu berarti Rp 4.000. Lumayan. Dan nelayan lain pun tertarik. Sekitar Agustus lalu, Djapar tidak lagi memonopoli pencarian batangan logam tersebut. Jadwal Komando Harga logam tersebut juga melonjak luar biasa -- sampai Rp 80.000. Bersamaan dengan naiknya harga emas, September batangan logam bermerek G.V.A jadi Rp 180.000. Terus saja menjulang sampai Rp 225.000, dan harga bulan Februari ini bahkan bisa mencapai Rp 265.000. Masalahnya, permintaan lebih besar ketimbang jumlah logam yang ditemukan. Sejak September, ada sekitar 67 penyelam (penyelam sungguhan atau nelayan yang jadi penyelam) mengaduk-aduk pantai Karangbolong. Tidak kurang dari 50 perahu compreng berkeliaran sekitar 25 meter dari pantai Karangbolong. Jarak dari pelabuhan Cilacap sampai ke tempat "harta karun" itu bersembunyi tak jauh memang. Malah hanya 15 menit saja jika ditempuh dengan perahu motor tempel. Biasanya mereka berangkat jam 03.00 pagi. Tidak semua nelayan mencari secara bersamaan. Beberapa di antara mereka harus berkonsultasi dulu dengan "orang tua" alias dukun. Tiap grup punya konsultan macam ini. Dan dukun inilah yang memberi "jadwal komando" tentang hari dan jam baik untuk berangkat. Peralatan yang mereka pakai cukup sederhana. Sebuah mesin kompresor, masker penyelam, argulator untuk mengatur pernapasan lewat mulut, rantai besi seberat 15 - 25 kg. Yang terakhir ini untuk mempercepat si penyelam sampai ke dasar laut. Juga dibawa slang pernapasan, martil atau linggis. Harga peralatan selam ini berkisar Rp 430 000. Penyelam yang tidak mampu, cukup mengenakan kostum berupa kaus olahraga. Beberapa penyelam alam bahkan tidak memerlukan argulator, asal ia tahu kapan ia seharusnya muncul ke permukaan laut. Tiap kelompok biasanya berjumlah 5 atau 6 orang: dua orang penyelam bekerja bergantian, seorang lain bertugas sebagai penjaga kompresor dan yang lain mengatur perahu, atau menerima isyarat bila penyelam minta tali pengikat logam ditarik. Tapi rezeki toh tidak bisa dipaksa. Jika beruntung, dalam waktu setengah jam sudah memperoleh logam yang dicari. Yang sial nol sampai pulang. Biasanya, kalau seorang penyelam menemukan batangan logam, penyelam lain menyerbu lokasi itu. Panik, gembira dan suasana yang tidak karuan terpusat di lokasi itu. Slang-slang udarapun jadi saling berbelit. Bulan lalu, dua orang tewas. "Karena itu kami kemudian melakukan tindakan larangan," ujar Adpel Cilacap, R. Soeroso Prawirosiswojo.

Lewat Syahbandar telah dikeluarkan larangan menyelam sejak 23 Januari, 1980. "Nelayan kok mau coba-coba jadi penyelam," tambah Soeroso. Masjid Larangan resmi ini ditujukan bagi semua pencari batangan besi tersebut. Soalnya, ada tim penyelam bukan dari Cilacap juga turut campur tangan. Misalnya kelompok yang menamakan diri "ekspedisi Puhara". Puhara adalah singkatan dari "Pemanfaatan Umum & Harta Pusaka Rakyat Indonesia", yang konon mendapat rekomendasi dari Bappeda Jawa Tengah. Setelah mengirim tim peneliti, Puhara mencoba mengumpulkan para penyelam dan nelayan, untuk menentukan bagi hasil. Puhara sendiri mendapat bagian 35%. Niat ini tentu saja ditentang oleh nelayan dan penyelam. Dan ketika Adpel menanyakan surat izin resmi dari Dirjen Perhubungan Laut, orang Puhara ternyata tak punya. Juga ketika alamatnya dicari di Jakarta, ternyata palsu. Tim ekspedisi ini sempat menggunakan nama Sekretariat Negara sebagai backingnya -- tapi sekarang sudah terpaksa angkat kaki dari teluk Cilacap. Minggu lalu, masih ada beberapa penyelam tradisional yang berkeliaran di pantai Karangbolong. "Mereka belum mengcrti pengumuman kami. Juga kami tak bisa menghentikan kegiatan mereka secara tiba-tiba," ujar Soeroso. Selain batangan logam itu, ada keping mata uang VOC bertahun 1790. Sebagian besar pembeli pertama batangan logam itu adalah orang-orang 'nonpri". Logam ini kemudian mereka jual kepada agen-agen yang kabarnya melego lagi ke Jakarta, Yogya atau Surabaya. Konon oleh pabrik pelebur logam, batangan logam dari Karangbolong ini disebut "babet", bahan pelapis metal mesin kendaraan. Ah Hok, salah seorang pembeli, mengaku bahwa dari setiap batang ia bisa menarik keuntungan sekitar Rp 10.000 - Rp 15.000. Djapar Bugis sendiri cukup bersyukur akan rahmat Tuhan. Sejak Juli tahun lalu hingga pertengahan Februari 1980 ia berhasil mendapat 110 batang logam. "Saya tidak mengerti logam apa ini dan mengapa harganya jadi naik cepat," ujarnya. Pembeli selalu memburunya. Bahkan sering, belum sampai di rumah, ia sudah dihadang pembeli menyodorkan tumpukan uang di bawah hidungnya. Kini Djapar Bugis sudah memiliki 3 buah perahu bermotor tempel. Juga dua set alat penyelam yang harganya sekitar satu juta rupiah. Rumahnya yang gubuk kini telah didandaninya dengan ongkos Rp 4 juta. Semua itu ia dapat dari penjualan batang-batang logam tadi. Bukan hanya itu. Rezekinya itu ia sisihkan untuk memberi sumbangan sebesar Rp 360 ribu pada beberapa masjid di Cilacap, Bandung, Pangandaran, Kebumen dan Gombong. Katanya sambil tertawa "Ya, hitung-hitung buat tabungan di akhirat nanti."

Sumber : Tempo Online (23 Februari 1980)

Rabu, 13 Oktober 2010

KOTA KAYA DI UJUNG SELATAN JAWA

         
Pendopo Kabupaten Cilacap

             Cilacap merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang wilayahnya terletak di bagian selatan Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Kabupaten Cilacap mempunyai luas wilayah 225.360,840 ha atau sekitar 6,94% dari luas wilayah Provinsi Jawa Tengah. Di sebelah timur berbatasan dengan Kapupaten Kebumen dan Kabupaten Banyumas, di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Brebes, serta di bagian barat laut berbatasan dengan Kabupaten Kuningan ( Provinsi Jawa Barat ).

            Kabupaten Cilacap sebenarnya merupakan kabupaten yang kaya, dilihat saja dari letak geografisnya di bagian selatan adalah Samudra Hindia yang secara otomatis Cilacap kaya akan sumber daya lautnya. Letaknya yang strategis  dekat dengan laut membuat Cilacap menjadi tempat persinggahan kapal-kapal besar dan memungkinkan daerah ini dikembangkan sebagai kawasan industri. Pada saat ini di Kabupaten Cilacap mempunyai wilayah khusus untuk pengembangan industri, yaitu Kawasan Industri Cilacap ( KIC ). Dengan adanya industri-industri tersebut maka diharapkan akan menambah pendapatan  daerah sehingga pembangunan di Kabupaten Cilacap akan maju seperti kota-kota industri lain di Indonesia. Tanah yang subur juga membuat Cilacap menjadi kota yang kaya hasil pertanian dan perkebunan yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat menjadi lebih baik.

            Tidak hanya kaya akan kekayaan alamnya saja,tetapi Cilacap juga kaya akan budayanya seperti gaya bahasa dan kesenian yang berbeda dengan daerah lain. Saat ini hanya tinggal beberapa budaya Cilacap yang masih bertahan seperti : Sedekah Bumi (Cilacap Utara dan Tengah), Kuda Kepang (Kawunganten), Reog (Maos dan Sampang), Sholawatan (Cimanggu), Kotekan Lesung (Kesugihan), Calung (Binangun), Calung Sunda (Dayeuhluhur), Baritan (Nusawungu), Rebab Sholawatan Ngelik (Cipari), Nyadran (Adipala), Buncis (Kroya), Marawis (Karangpucung), Muyen (Bantarsari), Kudalumping Begalan (Kedungreja), Tayub Jaipong (Wanareja), Rampak Kendang (Patimuan), Jaran Kepang (Jeruklegi) dan Sedekah Laut (Cilacap Selatan).
Sebagai daerah yang berada pada perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, Cilacap memiliki keanekaragaman budaya. Baik budaya yang bercorak Sunda, Jawa maupun campuran antara Sunda Jawa. Masyarakat Cilacap lebih dikenal sebagai bagian dari masyarat dan budaya Banyumas. Namun demikian, sebagian budaya tersebut kini mulai tergusur oleh derasnya arus modernisasi. Orang Cilacap yang termasuk sebagai bagian dari masyarakat Banyumas-an terkenal dengan gaya bicara “ blak-blakan ” (blaka suta). Ini terlihat juga dari gambaran tokoh pewayangan yang menjadi idola, yaitu “ Carub/ Bawor “ yang berwatak blaka suta, berani dan suka humor. Dalam menghadapi suatu permasalahan, mereka cenderung bicara atau terus terang mengemukakan pendapatnya dengan segala resikonya.
 
Dalam kehidupan masyarakat Cilacap dan masyarakat Banyumas-an pada umumnya, ada sebuah pameo yang menjadi dasar filosofi kemasyarakatan, yaitu “ gemblung-gemblung kari rubung “ yang artinya gila-gila asal kumpul. Pameo ini secara lebih jauh dapat diartikan bahwa kebersamaan itu adalah hal yang paling utama dalam hidup bermasyarakat. Saling tolong menolong dan toleransi menjadi semacam pedoman hidup. Pada intinya mereka yang lebih mampu dengan suka rela membagi pada yang belum mampu.

Sumber : 
Rucianawati ( Konflik Horizontal Pertanahan Di Kawasan Industri Cilacap )