Translate

Senin, 06 Februari 2012

KALI YASA



 Sungai Kali Yasa tempo dulu 

            Sungai yang dikenal warga kota Cilcap dengan nama Kali Yasa merupakan sarana vital bagi nelayan perikanan tangkap, khususnya nelayan tradisional yang ber-domisili di Tegalkatilayu, Sidakaya dan Sentolokawat. Mungkin masih belum banyak orang mengetahui bagaimana asal usul dari Kali Yasa tersebut.


Sungai Kali Yasa ( Tegalkatilayu)
                                                                                                 

            Berikut ini adalah kutipan dari buku “Cilacap (1830 - 1942) Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa” penulis Susanto Zuhdi, dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, cetakan Pertama, 2002, Jakarta. Gagasan awal pembangunan kanal Kali Yoso (sekarang Kali Yasa) adalah untuk melancarkan arus lalulintas kegiatan ekspor-impor dari pedalaman Banyumas ke daerah lain di Jawa dan Eropa melalui Pelabuhan Cilacap, yang sebelumnya melalui muara Sungai Serayu. Dengan harapan apabila pembangunan kanal tersebut berhasil, maka perdagangan laut akan lancar.Upaya pembangunan menggali kanal telah berlangsung sejak tahun 1832 - 1836. Akan tetapi hampir semua pekerjaan sebelum tahun 1900 seperti pembuatan irigasi atau penggalian kanal tersebut gagal. Tidak ada ahli eropa yang ter-libat dalam pekerjaan itu. Misalnya, penggalian Kanal Kesugihan dua kali dilaksanakan tetapi gagal mengalirkan air. Sejarah pembuatan kanal yang menghubungkan sungai serayu dengan Pelabuhan Cilacap merupakan salah satu dari banyak contoh salah urus pekerjaan gagal. Kegagalan tersebut antara lain disebabkan oleh masalah tenaga kerja (heerendiensten), yang harus didatangkan dari tempat jauh. Selain itu jumlah curah hujan tiap hari di daerah Cilacap dalam setahunnya adalah paling tinggi, baik diantara kota-kota pantai utara maupun selatan Jawa, 192 cm. Biaya pembuatan kanal yang disediakan dalam anggaran oleh Kas Residensi Banyumas sebesar f14.000,-. Ketika Seriere memamngku jabatan residen di banyumas, pekerjaan penggalian kanal berjalan selama dua tahun. Setiap hari dikerahkan tenaga kerja 1.800 orang dibawah oerintah dua bupati. Setiap 14 hari mereka bergantian menyediakannya. Biaya pembangunan kanal melalui rawa-rawa ini, termasuk pengeringannya sebear 90.000 gulden. Yoso dalam bahasa Jawa artinya sama dengan gawe yang berarti juga digawe (dibuat), jadi Kali Yoso adalah Sungai yang dibuat. Kanal Kali Yoso selesai dibangun pada tahun 1836. Sebagai perasaan gembira menyambut selesainya pekerjaan kanal tersebut Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens (1836 - 1840) mendampingi Pangeran Hendrik yang dating dari negeri Belanda untuk mengunjungi Jawa, tahun 1837, menyempatkan diri me-lakukan perjalanan air dari Banyumas ke Cilacap, yang ditempuh dalam waktu sembilan hari.

            Dengan selesainya kanal Kali Yoso tersebut produk dari pedalaman Banyumas lebih cepat dikirim ke Cilacap, tanpa melalui pantai selatan Jawa. Pekerjaan pembuatan kanal Kali Yoso belum menggunakan teknologi modern, sehingga hasilnyapun tidak sesuai harapan. Pada waktu-waktu tertentu, permukaan air kanal turun sehingga menjadi dangkal. Pemanfaatan Kali Yoso sebagai sarana lalu lintas untuk mengekspor kopi dari Banyumas, berakhir pada sekitar 1896. Karena pada 5 Maret 1884 atas usul pengusaha swasta telah diputuskan membuka jalur Trem Uap Lembah Serayu (SDS = Serayudal Stoomtrammaatschappij). Dan pada 16 juli 1896, SDS membuka jalur pertama yang menghubungkan Maos dengan Purwokerto (29 km). Maos merupakan titik temu rel kereta api Yogya-Cilacap. Lintas kereta api Yogya-Cilacap (Staatsspoorwegen = SS) dibangun pada tahun 1879 dan selesai tahun 1887. Sedangkan penyambungan rel dari stasiun Cilacap ke pelabuhan ditetapkan oleh Departemen Pekerjaan Umum pada tahun 1888.


             Sejak dibukanya jalur keretaapi itulah, Kali Yoso praktis tidak lagi digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan. Dalam perkembangannya pada abad 20, hilir Kali Yasa yakni Sentolokawat menjadi pusat kegiatan nelayan tradisional, kemudian dengan datangnya kapal-kapal dari Bagan Siapi-api yang memadati muara tersebut, serta dibangunnya tangki pengilangan minyak oleh Pertamina, maka timbulah gagasan membangun Pelabuhan Perikanan (saat ini PPSC) dan sungai Kali Yasa semakin berperan sebagai basis nelayan tradisonal.

*        Sumber: Dari berbagai sumber



Tidak ada komentar:

Posting Komentar